MERANTAU, Menoreh Catatan
MERANTAU, memang betapapun aku sangat tidak ingin pergi dari amannya pelukan lindungan orang tua, karena memang “naluri” itulah akhirnya aku direnggut paksa kehidupan. Lepas dari dekapan, dengan linangan air mata Ibu dan Bapak melepas salah satu anaknya untuk “pergi”. Bersusah dan payah di negeri orang, bersusah-susah mencari sekedar makan untuk bertahan. Berpayah-payah menghadapi rintangan.
MERANTAU, tak terasa sudah 14 tahun. Malang melintang, di sudut-sudut kota. Berdesakkan dengan jutaan manusia, dengan sekian juta kepentingan dan egoisnya masing-masing. Merangkak dan belajar membuka mata, pelan dan sangat pelan. Karena memang tak ada yang benar-benar membimbing untuk cepat berdiri dan berlari, untuk segera membelalakkan mata lebar-lebar. Agar terang dan jelas semua yang terlihat. Agar jelas hitam dan putih, merah dan kuningnya rasanya hidup.
MERANTAU, di September 14 tahun yang lalu, merasa sendiri, limbung dalam ketidak pastian. Tak tau arah, hanya berusaha untuk tetap berdiri walau tak tegak dan tegar. Hanya itu yang bisa selalu aku lakukan, bertahan dan bertahan. Karena untuk berlari tak sanggup, hanya mampu menatap langit yang luas. Dan selalu menanamkan harapan, bahwa esok akan selalu lebih baik. Yah benar, dengan harapan itulah aku meniti hari demi hari. Menahan saat sakit sendiri, mencari teman dan saudara-saudara yang baru. Karena memang tidak ada sebenarnya saudara darah di sini. Mencari dan terus mencari.
MERANTAU. Pikiran paling mendasar waktu itu, ibarat gula dan semut. Sendiri, semua aku usahakan untuk membuat gula yang manis agar semut-semut berdatangan. Selalu itu yang di pikiran aku waktu itu, bahkan masih sampai sekarang. aku ciptakan sendiri kesederhanaan berpikir untuk tidak berlebihan, menggantungkan cita-cita di langit terlalu tinggi. Karena gula tidak ada di langit luas, ada nya di bumi ini, kalaupun jatuh aku masih jatuh setidaknya di tempat biasa aku berpijak dan bukan di dunia lain yang bahkan mungkin udara untuk dihisappun tak ada.
Yah, benar saja. Hampir sekujur badan bahkan muka, ada bekas luka. Bukan digebukin karena maling makanan untuk bertahan hidup. Akibatnya lebih dari itu, karena bekas-bekasnya mungkin tidak akan pernah hilang seumur-umur. Karena kejadian-kejadian yang selalu menoreh bekas. Entah itu bekas yang terukir atau bekas yang acak dan sama sekali tak indah.
MERANTAU. Kertas putih itu kini tertera banyak tulisan. Dengan macam-macam tinta warna. Betapapun kadang tak bagus dan amat buruk tulisannya, sama sekali tak ingin aku robek atau aku hapus, biar agar selalu menjadi catatan-catatan. Betapa kertas putih yang dititipkan Ibu dan Bapak telah aku tulis, telah banyak aku torehkan catatan. Sayang, Bapak tak sempat membacanya, membaca betapa bukan kekayaan yang bisa aku banggakan atas warisan ilmunya.
TULISAN SEBELUMNYA :
Catatan dari pojok desa pinggiran sawah di kaki bukit yang sejuk dan indah.
Im go to :
kerja keras adalah energi kita ; kerja keras adalah energi kita ;
kerja keras adalah energi kita ; kerja keras adalah energi kita ;
kerja keras adalah energi kita ; kerja keras adalah energi kita ;
kerja keras adalah energi kita ; kerja keras adalah energi kita ;
oes tsetnoc ; oes tsetnoc ; oes tsetnoc ; oes tsetnoc ;

Related Posts :
Filed under: General