Pengemis dan Istri Cantik

Bukan juga ini tentang pengemis permasalahannya, cara mengatasinya dan juga bukan tentang mengembalikan jati diri bangsa. Ini hanya sekedar cerita biasa yang tiba-tiba melintas begitu saja di benak tengah malam ini. Hanya cerita Istri Cantik dan pengemis, bukan astaga.com lifestyle on the net.

Hanya kisah, bila ada kesamaan nama, alamat dan tempat segeralah periksa ke dokter :lol: Ketika seorang cantik di tengah kerumunan para pujangga kaya, yang saling berebut untuk mendapat perhatian sang Cantik. Mengapa? Karena Sang cantik sedang mencari seorang pendamping hidup, seperti wasiat ayahnya yang masih sehat dan belum ingin meninggal dunia :lol:

Sudah banyak yang melamar Sang Cantik, dari mulai sang kaya sampai yang sangat kaya. tobe continue :lol: ………..

HOT IN 20 09 2009 : SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI

Buat yang Merantau dan Mudik, Buat yang tidak Merantau dan tidak Mudik

Catatan dari pojok desa pinggiran sawah di kaki bukit yang sejuk dan indah.

Tagged with:
 

MUDIK, Terselip Rindu Untuk Kembali

MUDIK, kata pendek. Tak sepanjang perjalanan yang harus ditempuh. Karena keterbatasan segalanya, aku tidak bisa terlalu sering melakukannya. Kadang setahun 2 kali atau 3 kali. Bahkan saat-saat tertentu 1 kali setahun. Tapi beberapa tahun belakangan semenjak Ibu sendiri karena Bapak mendahului untuk “Merdeka dari dunia”, aku selalu berusaha setidaknya 2 kali dalam setahun. Atau Ibu yang kadang datang sekedar menengok.

MUDIK. Jadi tahu benar bagaimana hidup anaknya yang agak-agak bandel ini di rantau. Yah, karena menurut saya anak lelaki memang harus agak bandel, karena itu salah satu perbedaan sifat di banding anak perempuan yang harus selalu berkesan kalem dan menurut, seperti adik perempuanku. Tahu kalau anaknya yang agak bandel ini bukan orang yang seperti mesin, hidup pagi dimatikan sore hari saat harus tidur dan istirahat. Kadang hidup terus beberapa hari, kadang mati terus juga beberapa lama (he2x…).

Karena memang aku pengangguran dan bukan karyawan dengan baju rapi dan hidup teratur, tapi aku selalu suka hidup begini. Karena memang ini yang selalu ingin aku lakukan. Bahkan pernah aku ingin hidup menggembel di kota-kota lain, he2x… sepertinya bebas dan lepas.

Seberapa seringpun aku MUDIK, selalu ada keriangan terselip di hati saat menghadapi MUDIK. Yang selalu rindu untuk kembali, rindu mengulang masa-masa indah saat kertas masih putih. Naluri untuk selalu pulang ke tanah tempat darah dan air mata tertumpah untuk pertama kali. Itulah tanah tumpah darah. Selalu menyelipkan kerinduan yang susah untuk diungkapkan dengan kata-kata.

MUDIK. Coba bayangkan, kemanapun seorang anak manusia terbang dan pergi untuk mencari, pasti selalu ingin pulang. Mengumpulkan biaya sedikit demi dikit untuk sekedar “kembali pulang”. Berjuang berdesakkan, terhimpit ribuan orang MUDIK lainnya. Untuk apa? Untuk kembali pulang ke tanah tumpah darah. Memang hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Tapi kalau boleh memilih “Lebih baik hujan bahagia di negeri sendiri” (maunya…).

MUDIK, salah satu budaya yang katanya hanya ada di INDONESIA ini. Beruntung sekali masih ada tempat untuk kembali, desa tempat kelahiran ini. Makanya kita harus bangga dan selalu melestarikannya, kalau perlu segera di daftarkan hak patentnya sebelum keburu di klaim negara lain (he2x…) Itu kata Mas Iwan Fals ya di tivi. Iwan Fals yang musisi “orang pinggiran”.

MUDIK. Walaupun di Desa ini aku tidak bisa online setiap saat, karena belum ada jaringan SPEEDY yang ngacir. Tapi masih bisa sekedar ketak-ketik nulis seperti biasa di rumah. Kalau sudah siap baru deh, cabut ke warnet untuk di posting, minta diantar sebentar sama adik, 5 menit sampai deh. Ternyata Warnet di Purworejo ini bagus-bagus. Lebih bagus malah menurut saya, kecepatannya pun bagus, tempatnya lumayan nyaman, di banding warnet di Jalan Raya Serpong KM. 7 yang dodol maridol karena AC nya hanya keluar anginnya aja ( panas ), udah gitu nyantai banget jaringannya. Untung lagi aku bisa online di kamar aja, dengan fasilitas sambungan yang lumayan dari warnet yang bagus. Yang malunya kan kadang nggak mau dibayar alias gratis ni, senang tapi malu.

MUDIK ke Purworejo, apa lebihnya kota ini? Begitu terus dari dulu jaman aku masih sekolah, lambat sekali perkembangan pembangunan di sini. Padahal di sini ada juga lho keajaiban dunianya, mau tahu? Nanti kalau bisa saya ambil foto-fotonya. Mungkin nanti kita juga harus MUDIK, sebuah perjalanan kembali pulang. Dengan bekal-bekal yang sudah kita kumpulkan di dunia. Kita pasti juga akan mendapat giliran untuk MUDIK besar, kembali pulang, pulang ke Segala Maha.

Untuk yang masih punya tempat kembali, jangan dijual dulu ya (he2x..) biar bisa MUDIK, Terselip Rindu Untuk Kembali. Tempat menyandarkan penat, tempat dimana semua dimulai. Tempat fajar pertama mulai aku lihat. Aku selalu rindu untuk kembali dan selalu kuselipkan rindu setiap saat ku di MERANTAU ku.

TULISAN SEBELUMNYA :
  1. MERANTAU, Menoreh Catatan
  2. FACEBOOK, Haram dan Halal
  3. HOT KEYWORD : KONTES SEO
  4. HOT KEYWORD : SUPER SEO
  5. HOT KEYWORD : 090909
Tagged with:
 

MERANTAU, Menoreh Catatan

MERANTAU, dulu kata itu terlalu menakutkan untuk seorang aku yang masih sekolah dan terlalu muda untuk pergi dari rumah. Dan pada akhirnya, karena sesuatu yang aku lupa sebabnya, aku “terdampar” juga di tempat yang namanya perantauan. Memenuhi naluri seperti seekor burung yang harus pergi dari sarangnya saat baru belajar terbang.

MERANTAU, memang betapapun aku sangat tidak ingin pergi dari amannya pelukan lindungan orang tua, karena memang “naluri” itulah akhirnya aku direnggut paksa kehidupan. Lepas dari dekapan, dengan linangan air mata Ibu dan Bapak melepas salah satu anaknya untuk “pergi”. Bersusah dan payah di negeri orang, bersusah-susah mencari sekedar makan untuk bertahan. Berpayah-payah menghadapi rintangan.

MERANTAU, tak terasa sudah 14 tahun. Malang melintang, di sudut-sudut kota. Berdesakkan dengan jutaan manusia, dengan sekian juta kepentingan dan egoisnya masing-masing. Merangkak dan belajar membuka mata, pelan dan sangat pelan. Karena memang tak ada yang benar-benar membimbing untuk cepat berdiri dan berlari, untuk segera membelalakkan mata lebar-lebar. Agar terang dan jelas semua yang terlihat. Agar jelas hitam dan putih, merah dan kuningnya rasanya hidup.

MERANTAU, di September 14 tahun yang lalu, merasa sendiri, limbung dalam ketidak pastian. Tak tau arah, hanya berusaha untuk tetap berdiri walau tak tegak dan tegar. Hanya itu yang bisa selalu aku lakukan, bertahan dan bertahan. Karena untuk berlari tak sanggup, hanya mampu menatap langit yang luas. Dan selalu menanamkan harapan, bahwa esok akan selalu lebih baik. Yah benar, dengan harapan itulah aku meniti hari demi hari. Menahan saat sakit sendiri, mencari teman dan saudara-saudara yang baru. Karena memang tidak ada sebenarnya saudara darah di sini. Mencari dan terus mencari.

MERANTAU. Pikiran paling mendasar waktu itu, ibarat gula dan semut. Sendiri, semua aku usahakan untuk membuat gula yang manis agar semut-semut berdatangan. Selalu itu yang di pikiran aku waktu itu, bahkan masih sampai sekarang. aku ciptakan sendiri kesederhanaan berpikir untuk tidak berlebihan, menggantungkan cita-cita di langit terlalu tinggi. Karena gula tidak ada di langit luas, ada nya di bumi ini, kalaupun jatuh aku masih jatuh setidaknya di tempat biasa aku berpijak dan bukan di dunia lain yang bahkan mungkin udara untuk dihisappun tak ada.

Yah, benar saja. Hampir sekujur badan bahkan muka, ada bekas luka. Bukan digebukin karena maling makanan untuk bertahan hidup. Akibatnya lebih dari itu, karena bekas-bekasnya mungkin tidak akan pernah hilang seumur-umur. Karena kejadian-kejadian yang selalu menoreh bekas. Entah itu bekas yang terukir atau bekas yang acak dan sama sekali tak indah.

MERANTAU. Kertas putih itu kini tertera banyak tulisan. Dengan macam-macam tinta warna. Betapapun kadang tak bagus dan amat buruk tulisannya, sama sekali tak ingin aku robek atau aku hapus, biar agar selalu menjadi catatan-catatan. Betapa kertas putih yang dititipkan Ibu dan Bapak telah aku tulis, telah banyak aku torehkan catatan. Sayang, Bapak tak sempat membacanya, membaca betapa bukan kekayaan yang bisa aku banggakan atas warisan ilmunya.

Tapi aku bangga, bangga mempersembahkannya untuk Ibu. Karena memang dia tidak pernah meminta atau mempertanyakan kekayaan apa yang aku punya. ” Gula sudah aku buat Bu “  gumamku selalu dalam hati. Belum terlalu manis mungkin, setidaknya sudah banyak semut mencium aromanya, mencium manisnya gula dan bukan pahitnya racun. Karena semut tidak akan mendatangi racun, tapi di mana ada gula di situ ada semut, untuk berbagi dan saling menikmati. Ini Perantauanku Bu ….

TULISAN SEBELUMNYA :

  1. FACEBOOK, Haram dan Halal
  2. HOT KEYWORD : KONTES SEO
  3. HOT KEYWORD : SUPER SEO
  4. HOT KEYWORD : 090909
Tagged with: