MUDIK, kata pendek. Tak sepanjang perjalanan yang harus ditempuh. Karena keterbatasan segalanya, aku tidak bisa terlalu sering melakukannya. Kadang setahun 2 kali atau 3 kali. Bahkan saat-saat tertentu 1 kali setahun. Tapi beberapa tahun belakangan semenjak Ibu sendiri karena Bapak mendahului untuk “Merdeka dari dunia”, aku selalu berusaha setidaknya 2 kali dalam setahun. Atau Ibu yang kadang datang sekedar menengok.
MUDIK. Jadi tahu benar bagaimana hidup anaknya yang agak-agak bandel ini di rantau. Yah, karena menurut saya anak lelaki memang harus agak bandel, karena itu salah satu perbedaan sifat di banding anak perempuan yang harus selalu berkesan kalem dan menurut, seperti adik perempuanku. Tahu kalau anaknya yang agak bandel ini bukan orang yang seperti mesin, hidup pagi dimatikan sore hari saat harus tidur dan istirahat. Kadang hidup terus beberapa hari, kadang mati terus juga beberapa lama (he2x…).
Karena memang aku pengangguran dan bukan karyawan dengan baju rapi dan hidup teratur, tapi aku selalu suka hidup begini. Karena memang ini yang selalu ingin aku lakukan. Bahkan pernah aku ingin hidup menggembel di kota-kota lain, he2x… sepertinya bebas dan lepas.
Seberapa seringpun aku MUDIK, selalu ada keriangan terselip di hati saat menghadapi MUDIK. Yang selalu rindu untuk kembali, rindu mengulang masa-masa indah saat kertas masih putih. Naluri untuk selalu pulang ke tanah tempat darah dan air mata tertumpah untuk pertama kali. Itulah tanah tumpah darah. Selalu menyelipkan kerinduan yang susah untuk diungkapkan dengan kata-kata.
MUDIK. Coba bayangkan, kemanapun seorang anak manusia terbang dan pergi untuk mencari, pasti selalu ingin pulang. Mengumpulkan biaya sedikit demi dikit untuk sekedar “kembali pulang”. Berjuang berdesakkan, terhimpit ribuan orang MUDIK lainnya. Untuk apa? Untuk kembali pulang ke tanah tumpah darah. Memang hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Tapi kalau boleh memilih “Lebih baik hujan bahagia di negeri sendiri” (maunya…).
MUDIK, salah satu budaya yang katanya hanya ada di INDONESIA ini. Beruntung sekali masih ada tempat untuk kembali, desa tempat kelahiran ini. Makanya kita harus bangga dan selalu melestarikannya, kalau perlu segera di daftarkan hak patentnya sebelum keburu di klaim negara lain (he2x…) Itu kata Mas Iwan Fals ya di tivi. Iwan Fals yang musisi “orang pinggiran”.
MUDIK. Walaupun di Desa ini aku tidak bisa online setiap saat, karena belum ada jaringan SPEEDY yang ngacir. Tapi masih bisa sekedar ketak-ketik nulis seperti biasa di rumah. Kalau sudah siap baru deh, cabut ke warnet untuk di posting, minta diantar sebentar sama adik, 5 menit sampai deh. Ternyata Warnet di Purworejo ini bagus-bagus. Lebih bagus malah menurut saya, kecepatannya pun bagus, tempatnya lumayan nyaman, di banding warnet di Jalan Raya Serpong KM. 7 yang dodol maridol karena AC nya hanya keluar anginnya aja ( panas ), udah gitu nyantai banget jaringannya. Untung lagi aku bisa online di kamar aja, dengan fasilitas sambungan yang lumayan dari warnet yang bagus. Yang malunya kan kadang nggak mau dibayar alias gratis ni, senang tapi malu.
MUDIK ke Purworejo, apa lebihnya kota ini? Begitu terus dari dulu jaman aku masih sekolah, lambat sekali perkembangan pembangunan di sini. Padahal di sini ada juga lho keajaiban dunianya, mau tahu? Nanti kalau bisa saya ambil foto-fotonya. Mungkin nanti kita juga harus MUDIK, sebuah perjalanan kembali pulang. Dengan bekal-bekal yang sudah kita kumpulkan di dunia. Kita pasti juga akan mendapat giliran untuk MUDIK besar, kembali pulang, pulang ke Segala Maha.
Untuk yang masih punya tempat kembali, jangan dijual dulu ya (he2x..) biar bisa MUDIK, Terselip Rindu Untuk Kembali. Tempat menyandarkan penat, tempat dimana semua dimulai. Tempat fajar pertama mulai aku lihat. Aku selalu rindu untuk kembali dan selalu kuselipkan rindu setiap saat ku di MERANTAU ku.